ID | EN

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin

Metamorfosa Laki-laki Tempramen

“Buat apa ikut kegiatan Damar? Bukannya itu malah ngajarin istri lancang sama suami? Kamu kok malah ikut-ikut?”

tutur Miswanto menceritakan komentar tetangganya ketika pertama kali dia mengikuti pertemuan di hotel Emersia tahun 2017.

Waktu itu bu Wahyu, Sekdes Batu Tegi yang mengajaknya. Awalnya Miswanto ragu mau datang atau tidak, tapi justru komentar tetangganya yang membuat dia semangat. Dia mau memastikan kegiatan macam apa yang akan diikutinya ini.

Setelah empat pertemuan, laki-laki berusia 39 tahun ini baru sadar bahwa kegiatan Kelas Ayah yang diikutinya ini bukan mengajari istri lancang, tapi mengajari suami dan istri bahwa mereka adalah partner. Pelan-pelan Miswanto baru sadar kalau jadi istri itu berat. “Tugas seorang perempuan itu berat sekali. Mereka bekerja mulai dari terbitnya matahari sampai terlelapnya mata suami.” Diantara diskusi-diskusi yang diikutinya, kekerasan terhadap perempuan adalah yang paling menyita perhatiannya. “Saya ini orangnya temperamen banget. Bahkan jika amarah sudah tak tertahan, barang-barang yang ada di depan saya akan saya banting. Pernah suatu kali saking marahnya, ponsel Nokia yang baru saya beli saya banting sampai hancur di depan istri.” Katanya menerawang penuh penyesalan.

Pelajaran penting lainnya yang dia dapatkan adalah dalam hal mengasuh anak. Melalui kelas Miswanto sadar bahwa suami juga bertanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik anak. Sudah menjadi pemahaman bersama kalau di Batu Tegi dan mayoritas wilayah di Lampung berpikir bahwa mengasuh dan mendidik anak adalah mutlak tugas istri. “Karena kami kan melihat ibu kami ya berkutat antara dapur, kasur dan sumur. Saya sendiri tidak pernah memandikan atau memasang baju untuk anak. Bisa dibilang anti malahan. Tapi setelah mendapat wawasan baru, saya mulai berpikir apa yang didiskusikan di kelas Ayah mungkin ada benarnya. Meskipun awalnya sulit, pelan-pelan saya mengubah kebiasaan.” Ujarnya.

Miswanto mengaku bahwa awalnya memang tidak mudah melakukan kebiasaan-kebiasaan baru. Memandikan dan memasang pakaian anak itu baru saya lakukan setelah mendapat pelatihan. Tapi setelah dijalani, ternyata timbul perasaan menyenangkan menurutnya. Dia jadi merasa lebih dekat dan lebih tahu perkembangan anak.

Mungkin bagi yang tidak melakukan, akan aneh membayangkan rasanya memandikan anak. Tapi Miswanto sendiri senang karena ada perilakunya yang berubah. Dulu sebelum mengikuti pelatihan, Miswanto bisa cuek saja merokok di depan rumah, sewaktu istrinya kewalahan menjemur cucian sembari menggendong anak dan berusaha menghalau ayam yang akan masuk rumah. Sekarang dia tidak lagi tega membiarkan istrinya sendirian melakukan itu semua.

Cap sebagai suami takut istri pernah diterimanya, karena ada tetangga yang melihatnya menjemur pakaian. Miswanto tidak masukkan ke hati komentar itu, pelan-pelan dia justru memberi tahu tetangganya, bahwa ketika laki-laki mencuci pakaian itu adalah bentuk kerjasama suami istri, saling mengisi kekosongan. “Saya ceritakan juga bahwa Damar tidak mengajarkan istri untuk ngelunjak pada suami, tetapi justru mengajarkan kalau suami dan istri adalah partner. Akhirnya tetangga saya pun tidak lagi berkomentar ketika saya ikut kelas Ayah. Malah, yang saya rasakan dengan memberi contoh kecil seperti membantu istri menjemur pakaian, lama-kelamaan saya melihat sikap tetangga saya pun berubah. Ia jadi kerap terlihat membantu istri untuk memilah sayuran, membantu mengupas buah atau sayuran, dan yang lainnya. Meskipun saya belum mencari tahu kenapa tetangga saya itu berubah, tapi senang melihatnya.” Kata Miswanto.

Bapak satu anak ini juga salah satu yang berpikiran kritis di dalam diskusi. Setelah selesai mengikuti pertemuan pertama Kelas Ayah, dia merasa bahwa kalau yang ikut hanya dia saja sementara istrinya tidak, bisa gagal paham ini. Miswanto tidak ingin hanya dia saja yang dibikin pintar sementara istrinya tidak atau sebaliknya, maka pemahaman pasangan itu akan berbeda.

“Jadi saya inisiatif mengajak istri saya berbicara dan ikut Kelas Ibu agar kita punya pemahaman yang sama. Untungnya istri saya setuju, jadi dia mengikuti Kelas Ibu sekarang.” Katanya. Miswanto menyampaikan kalau pelajaran mendasar yang baru dia sadari setelah mengikuti Kelas Ayah adalah bahwa komunikasi itu merupakan hal yang penting di dalam rumah tangga. Sebelumnya hampir seluruh keputusan pribadi dalam rumah tangga, baik dari pihaknya maupun sang istri selalu diputuskan sendiri-sendiri. Hampir tidak ada komunikasi dan hal ini yang tidak jarang mengakibatkan munculnya pertengkaran.

Sekarang pasangan ini sama-sama sadar bahwa bermusyawarah itu penting. Miswanto mencontohkan ketika istrinya punya ide untuk bekerja merantau ke luar daerah. Dia tidak keberatan dan mendukung istri jika mau bekerja, tetapi mereka kemudian mendiskusikan untung ruginya. Dan akhirnya sang istri sendiri yang mengurungkan niat pergi sebab masih merasa berat untuk meninggalkan anak yang masih kecil.

Perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada Miswanto banyak menyenangkan istrinya. Bahkan sesederhana ketika dia menunggui istri yang sedang memasak saja, tanpa membantu melakukan apapun, istrinya sudah terlihat senang. Sebab dulu ketika istri memasak Miswanto boro-boro mau ke dapur. Dia seperti raja yang menunggu masakan matang saja sembari menonton TV. Pelan-pelan Miswanto mengambil peran dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci baju, menjemur pakaian, mengasuh anak dan membantu memasak.

Karena masih tinggal di rumah orang tuanya, perubahan ini sempat mengejutkan ibunya. Dia sampai pernah bertanya, kenapa Miswanto yang mencuci, kemana istrinya, juga ketika tahu anaknya memasak. Pemahaman orang tua Miswanto bahwa memasak adalah urusan perempuan, masih sangat kental. Perlu waktu untuk memberi mereka pengertian sampai akhirnya bisa memahami dan menerima.

Perubahan terbesar yang menurut Miswanto terjadi pada dirinya adalah berkurangnya sikap tempramentalnya. “Dulu saya sangat mudah marah dan egois. Tidak bisa menahan diri. Tapi setelah mengikuti Kelas Ayah dan mengubah perilaku, saya merasa diri saya tidak lagi egois dan bisa meredam amarah. Sekarang kami mengingat peristiwa yang terjadi akibat kemarahan saya dulu, sebagai bahan tertawaan saja. Miswanto yang temperamental itu sudah jadi kenangan saja.” Pungkasnya.


Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on linkedin
LinkedIn

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content