ID | EN

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin

‘Buwaca Buddhayah Lokatara’: Malam ‘Pertunjukan Budaya yang Luar Biasa’ Menambah cakrawala pengetahuan PKRS melalui seni dan budaya

(Jumat, 20/5), Pelatihan Guru dan Kepala Sekolah PKRS SETARA tibalah di hari ketiga. Hari ini merupakan rangkaian penutup dari 3 hari kegiatan penuh yang telah dilaksanakan sejak Rabu, 18 Mei 2022 lalu. Semangat kegembiraan dari para 189 peserta yang terdiri dari Guru, Kepala Sekolah, perwakilan Dinas Pendidikan, serta Lembaga Swadaya Masyarakat dari 6 Kabupaten di Indonesia (Garut,  Indramayu, Jember,  Jombang, Lombok Timur, Langkat) semakin menyala menyambut keseruan kegiatan hari ini. 

Kegiatan pelatihan hari ini dilanjutkan dengan kelas paralel penyampaian materi berbagai topik seputar perkembangan remaja dan HKSR yang tak kalah menarik dari hari sebelumnya. Khususnya di kelas guru, topik-topik selanjutnya yang dibahas di kelas guru diantaranya, ‘Membuat Keputusan’, ‘Kesehatan Mental’, dan ‘Perilaku Berisiko, Infeksi Menular Seksual (IMS)’, dan Kehamilan’. Ketiga materi ini merupakan isu-isu yang sangat penting, khususnya menjadi tantangan bagi setiap remaja yang mengalami masa pubertas.

Susana kelas materi tentang Perilaku Berisiko, IMS, dan Kehamilan

“Kami sangat senang sekali ya terutama dalam materi-materi yang sangat memotivasi kita sebagai guru. Tentunya bagaimana kita bisa bersikap kepada peserta didik dalam mengajarkan reproduksi dan seksualitas”, ungkap Ibu Fanny seorang guru dari Indramayu yang sangat berkesan dengan kegiatan pelatihan ini. Ia pun juga berharap dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu yang ia dapat dengan baik di sekolahnya.

Dinamika kelas  semakin hari semakin aktif. Para guru semakin aktif dalam berdiskusi, mencurahkan ide-ide, serta berbagi pengalaman satu sama lain. Mereka juga semakin terlihat lebih memahami tentang konsep HKSR remaja dan nilai-nilai gender positif melalui aktivitas diskusi yang dinamis, serta serangkaian uji studi kasus untuk memperdalam pemahaman materi.

Fasilitator dari Rutgers Indonesia sedang memandu permainan di kelas

Di kelas paralel lainnya, yang berisi tenaga pendidik, yakni Kepala Sekolah, dan Dinas Pendidikan, para peserta didampingi oleh para guru master trainer, perwakilan pemangku kepentingan lokal, untuk berbagi pengalaman bersama GTK Kemendikbud dalam mengembangkan PKRS di tingkat Kota maupun tingkat sekolah. 

Salah satu peserta Kepala Sekolah membagikan pengalamannya mengikuti kegiatan ini. Ia merasa bahwa sepulang dari kegiatan ini, harus menerapkan ilmu-ilmu yang didapatkan melalui dukungan-dukungan yang ada.

Peserta guru sedang membaca modul SETARA

“Sebagai Kepala Sekolah dan pengambil kebijakan, saya tidak boleh main-main bahwa generasi muda harus diselamatkan, terutama siswa-siswi. Dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, Rutgers, kemudian dari LSM yang terkait, kami sepakat, kami semangat untuk mengangkat nilai-nilai PKRS ini untuk membentuk sebuah generasi muda, generasi anak bangsa yang luar biasa,” ungkap Pak Agus Tri, Kepala Sekolah SMPN 4 Jombang, Jawa Timur.

Pelibatan Kepala Sekolah sangat penting dalam pelatihan ini agar mampu mengembangkan kurikulum PKRS dan meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, serta memiliki komitmen dan kepemimpinan yang kuat dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan sehingga dapat mengoptimalkan potensi tumbuh kembang remaja di sekolah.

Narasumber dari GTK Kemendikbud sedang memandu sesi berbagi pengalaman kebijakan PKRS bersama Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan

Setelah rangkaian kelas materi, para peserta berkumpul di ruang pleno untuk merencanakan tindak lanjut dari kegiatan pelatihan ini. Diskusi dibagi berdasarkan kelompok per Kabupaten, dimana pada sesi ini seluruh elemen guru, kepala sekolah, maupun dinas pendidikan dari masing-masing daerah berkumpul untuk merencanakan apa yang dapat mereka lakukan bersama dalam mendorong kebijakan PKRS di wilayah mereka.

Sesi diskusi Rencana Tindak Lanjut (RTL) bersama masing-masing Kabupaten

“Tentunya kami dari Dinas Pendidikan setelah kegiatan ini optimis untuk bisa mengimplementasikan PKRS ini di semua satuan pendidikan yang ada di Kab. Lombok Timur. Mengingat di Kab. Lombok Timur sendiri kasus-kasus yang terjadi terutama kekerasan seksual pada anak ini masih ada yang terjadi”,ungkap Baiq Lian Krisna Yutarti salah satu peserta dari perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur-NTB yang memberikan dukungannya untuk kebijakan PKRS di wilayahnya.

Para perwakilan LSM memandu sesi diskusi Rencana Tindak Lanjut (RTL)

Diskusi di setiap kelompok Kabupaten berjalan sangat aktif dan dinamis. Seluruh peserta  menuangkan ide-ide segar yang akan mereka rencanakan di wilayah mereka. Sesi curah pendapat dipimpin oleh masing-masing perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat dari setiap Kabupaten, diantaranya SUAR dari Jember, SAPA institute dari Indramayu, Aliansi Sumut Bersatu dari Langkat, tim Rutgers Lombok, serta PMI dari masing-masing wilayah Jombang, Indramayu dan Langkat. Dimana para LSM ini, kedepannya akan menjadi penggerak untuk mengimplementasikan PKRS ini di masing-masing wilayah tersebut.

“Buwaca Buddhayah Lokatara”: Aksi Unjuk Budaya yang Luar Biasa

Setelah rangkaian acara pelatihan selesai, malam terakhir kegiatan ditutup apik dengan kegiatan Aksi Unjuk Budaya dengan tema: ‘Buwaca Buddhayah Lokatara’, yang bermakna ‘Aksi Unjuk Budaya yang Luar Biasa’.

Malam aksi budaya ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya dari daerah satu sama lain. Setiap kelompok unjuk kebolehan melalui berbagai penampilan seni dan budaya khas dari masing-masing wilayah kabupaten, seperti tarian, pertunjukan musik, puisi, maupun pertunjukan drama.

Pertunjukan tari multi etnis dari Kabupaten Langkat

Terdapat 6 penampilan dari masing-masing Kabupaten, diantaranya Tarian Tegining Amak Teganang dari Lombok, Besutan dari Jombang, Egrang dari Jember, Tarian Multi Etnis dari Langkat, Rampak Sekar dari Garut, dan Tari Topeng dari Indramayu. 

Pertunjukan Tari Tegining Amak Teganang 

Setiap pertunjukan memiliki pesan-pesan yang sangat bermakna, khususnya pesan positif yang ditujukan kepada generasi muda. Seperti salah satunya pertunjukan Rampak Sekar dari Garut, sebuah pertunjukan paduan suara yang menyanyikan lagu ciptaan para guru tentang masa indah remaja yang harus mampu memilih masa depannya sendiri dan bebas dari tindak kekerasan.

Para penonton yang hadir diberikan kesempatan untuk memberikan penilaian setiap penampilan berdasarkan beberapa kriteria yaitu keterampilan dan teknik, pesan yang disampaikan, estetika, nilai jual pariwisata, kostum dan tata rias. Para penampil terbaik akan diberikan hadiah hiburan sebagai apresiasi dari panitia.

Malam Ajang Unjuk Budaya ini tidak hanya menambah cakrawala pengetahuan akan kesenian dan budaya dari ragam daerah di Indonesia, melainkan juga menjadi malam penutup yang dari serangkaian kegiatan Pelatihan Guru dan Kepala Sekolah PKRS SETARA selama tiga hari ini, sebagai sebuah pesan kesetaraan dan keberagaman yang hangat.

Rutgers Indonesia berharap, melalui kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan dukungan dan kerja sama yang yang lebih erat dari seluruh pihak, baik di tingkat sekolah, pemerintah daerah, pemerintah nasional, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat, untuk bersama-sama bergandengan tangan dalam mewujudkan generasi remaja yang sehat dan bebas dari kekerasan. 

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on linkedin
LinkedIn

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content