Hanging Lamp - Rutgers Indonesia
Clock - Rutgers Indonesia
Painting Frame - Rutgers Indonesia

Hubungan Anak dan
Orangtua yang Terbuka

Hubungan Anak dan Orangtua yang Terbuka
Sofa - Rutgers Indonesia
Plant - Rutgers Indonesia

Orangtua dan anak memiliki hubungan yang cukup kompleks. Dinamikanya pun kian berubah seiring dengan anak melewati berbagai masa pertumbuhan. Masa-masa remaja, atau awal pubertas, menjadi salah satu fase yang rumit karena anak mengalami banyak perubahan, sementara orangtua menjadi pihak yang mendampingi mereka.

Dengan itu, bagi Nila, seorang ibu asal Lampung, belajar untuk membangun hubungan orangtua-anak yang didasari oleh kepercayaan dan keterbukaan menjadi penting. Salah satu tujuannya adalah agar anak bisa merasa nyaman dan aman untuk bercerita keluh kesah mengenai tantangan yang dihadapinya dalam masa pubertas.

Cerita Manda - Rutgers Indonesia

“Jadi anak dengan orang tua gak ada batas untuk bercerita, jadi gak takut untuk bercerita,” ungkap Nila

Terdapat beberapa trik atau usaha yang dilakukan oleh Nila untuk membangun hubungan dengan anak-anaknya. Salah satunya adalah dengan menunjukkan gestur kepedulian atas apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari anaknya. Setidaknya, setiap anak-anaknya pulang sekolah, Nila menanyakan kabar dan kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya di sekolah.

“Saya ajarkan untuk bercerita. Jadi orangtua, (juga) jadi teman, dia selalu cerita, jadi saya tahu kegiatan di luar. Saya tanya temannya seperti apa, jadi kadang-kadang saya juga kepo, saya ingin tahu temannya siapa saja,” kisah Nila.

Orang tua dan anak - Rutgers Indonesia
Bubble Chat - Rutgers Indonesia
Bubble Chat - Rutgers Indonesia
Kisah Donna - Cerita Siswa

Dengan banyak membangun percakapan dan saling berbagi, Nila merasa hubungan yang terbentuk dengan anaknya pun semakin kuat.

Saat salah satu anaknya, Donna, memasuki sekolah menengah pertama (SMP), Nila mengetahui bahwa sekolah Donna menerapkan modul pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) bernama SETARA. Nila pun membaca modulnya. Kemudian, Nila menemukan bahwa banyak informasi di dalamnya yang cukup penting untuk turut mendampingi anaknya melewati masa pertumbuhan remaja.

Di saat yang sama, Nila juga mencoba untuk membuka percakapan mengenai kespro ke Donna. Percakapan awal yang Nila sampaikan adalah mengenai menstruasi. Percakapan tersebut pun masih diingat oleh Donna.

“Pas menstruasi pertama kali, terus mama ya ngejelasin terus ngajarin cara ngebersihinnya, dan lain-lain,” kisah Donna.

Tak hanya itu, Donna juga mengingat sejumlah percakapan lainnya, seperti mengenai bagian tubuh mana saja yang boleh dan tak boleh disentuh. “Mama pernah sih bilang bagian tubuh mana saja yang gak boleh disentuh sama orang lain kecuali kita sendiri, kayak kemaluan dan lain-lain,” ujarnya.

Sementara di sisi lain, Donna pun mendapatkan banyak asupan informasi baru dari modul SETARA, serangkaian informasi yang juga menjadi hal baru bagi Nila. Akhirnya, seiring dengan Donna belajar, Nila turut belajar mengenai kespro untuk kalangan remaja. Tak hanya itu, Nila pun akhirnya menjadi aktif dalam turut serta mengikuti rangkaian pembelajaran mengenai kespro untuk remaja yang diadakan oleh pihak sekolah, maupun eksternal.

Siswi Dengan Modul SETARA
Plant - Rutgers Indonesia
Star 2 - Rutgers Indonesia

Dengan landasan hubungan yang saling terbuka dan saling menghargai, Donna dan Nila akhirnya banyak belajar dari satu sama lain. Salah satu hal baru yang diketahui oleh Donna dari program SETARA adalah stereotip laki-laki dan perempuan.

Kisah Donna - Cerita Siswa

“Sebenarnya banyak sih kayak ‘lo cowok nih, jadi lo yang angkat ini’, terus cowok kan yang kalau di rumah, kayak abang tuh, diraja-rajain gitu deh, gak pernah disuruh-suruh, yang disuruh yang cewek kan. Tapi karena di SETARA diajarin soal kesetaraan gender, jadi Donna tahu kalau kita tuh sama, mau cowok atau cewek, gak boleh dibeda-bedain,” kisah Donna.

Hal tersebut pun ia diskusikan bersama ibunya, Nila. Nila pun meresponnya dengan biasa saja. “Responnya biasa saja, nggak ngedebatin,” ingat Donna.

Bagi Nila, pengalaman untuk belajar lebih mendalam lewat program SETARA merupakan langkah penting yang turut membantunya dalam mengasuh anak-anak remajanya.

Remaja Perempuan
“Saya lebih banyak tahu tentang reproduksi dan pertumbuhan remaja,” ungkap Nila.

Sekali pun, di sisi lain, Nila berharap bahwa program SETARA ini bisa mulai diimplementasikan ke usia yang lebih kini. Setidaknya, mulai saat anak memasuki tahun-tahun terakhir mereka di sekolah dasar (SD).

“Berharap gak hanya di SMP, [tapi] sejak kelas 5 atau 6, karena anak-anak juga sudah mulai ingin tahu,” ujar Nila.

Pertanyaan Seputar KESPRO
Question - Rutgers Indonesia

Sejumlah pertanyaan mengenai kespro pun memang mulai ditanyakan oleh anak-anak Nila sejak akhir SD, seperti “Mah, dari mana aku keluar?”, dan sebagainya.

Pengalaman dan dinamika hubungan setiap orangtuanya tentunya berbeda-beda. Namun, mereka sama-sama mengalami serangkaian tantangan dalam mengasuh anak yang mulai tumbuh dewasa. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nila, Manda, seorang ibu dari Denpasar, juga melakukan usaha yang serupa untuk membangun hubungan yang harmonis dengan anak-anaknya agar mereka mampu untuk lebih terbuka dengannya. Manda memiliki dua anak laki-laki remaja yang kini duduk di bangku SMA, serta satu anak perempuan yang kini masih SMP.

Palm Tree - Rutgers Indonesia
Umbrella - Rutgers Indonesia

Selain itu, Manda juga membuat sebuah rutinitas untuk bepergian bersama anak-anaknya ke pantai dekat rumahnya. Berbagai percakapan yang lebih mendalam pun biasanya berlangsung di pantai.

Keluarga Berlibur di Pantai
Shadow soft pink - Rutgers Indonesia
Bubble Chat - Rutgers Indonesia
Bubble Chat - Rutgers Indonesia

“Kita suka ke pantai, biasanya di situ obrolan dari mereka ke luar. Di situ, kita menyampaikan pandangan-pandangan (mengenai kespro). Itu kita jadikan rutinitas dari kecil hingga sekarang. Itu yang kita lakukan,” kisah Manda.

“Pada awal, mungkin mereka sungkan. Tapi lama-lama, mereka terbiasa, jadi tanpa ditanya, mereka cerita,” lanjutnya.

Seperti halnya cerita Manda dan Nila, Mariani seorang Ibu dari Lombok juga berbagi cerita tentang bagaimana ia membangun komunikasi dengan anak perempuannya, Fadiya yang kini duduk di bangku kelas 2 SMP. Ia dan anaknya sudah terbiasa membangun komunikasi yang terbuka, mulai dari bercerita tentang aktivitas anaknya di sekolah, pergaulan anaknya dengan teman-temannya, sampai membahas seputar menstruasi.

“Selalu komunikasi, kasih tau. Anak saya kan suka main TikTok sama teman-temannya, ya namanya remaja ya. Suka liatin [konten], ‘Ma liat deh’ atau tanya ‘Ma, boleh gini ndak?’ ya selagi masih wajar-wajar aja saya kasih”,ungkapnya.

Quote Mariani - Rutgers Indonesia

“Misal kalau lagi menstruasi, ‘Ma memangnya menstruasi berapa hari? Kok perutku mules?’ Suka tanya-tanya ke saya”, ungkap Mariani.

Namun sebagai orang tua ia mengaku ketakutan terbesarnya adalah apa yang dikonsumsi anaknya di media sosial, terutama saat anaknya berselancar sendiri mencari informasi.

“Pas dia lagi buka media sosial, atau misalnya kalau ngerjain PR carinya di google kalau kesulitan kan, takut dapat informasi macam-macam”, ungkap Mariani.

Kerjasama Orangtua,
Anak, dan SETARA

Usaha untuk membangun hubungan memang perlu dilakukan dari beberapa arah. Dalam pengalaman Manda, keterbukaan dalam hubungannya dan anaknya tak mampu terjadi apabila hanya dilakukan dari pihak Manda. Manda mengajak anak-anaknya untuk turut terbuka. Tak hanya itu, pasangan Manda, yakni suaminya, serta sekolah juga mendukung seluruh usaha tersebut.

Manda terkadang merasa terdapat sekat untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan kespro ke anak-anaknya yang laki-laki. Salah satunya karena keterbatasan pengalaman yang dimiliki Manda. Dengan itu, percakapan mengenai kespro pun turut dilakukan oleh suami Manda ke anak-anaknya.

Kerjasama - Rutgers Indonesia

“Yang cowok, sama Papa. Yang cewek, saya tanyain, lebih saya tanyain. Jadi saya sama Papanya sama aja, ngobrol ya ngobrol, terbuka ya terbuka,” ungkap Manda.

Cerita Guru - Rutgers Indonesia

Sementara, terdapat beberapa materi kesehatan seksual dan reproduksi yang tak mampu untuk diajarkan oleh Manda dan pasangannya. Manda pun berharap kekosongan materi tersebut bisa dipenuhi oleh sekolah anak-anaknya, salah satunya melalui materi kespro dari SETARA.

“Kita sebagai orangtua kan tahunya cuma dari pengalaman,” ungkap Manda.

Dengan itu, Manda berharap hal-hal yang lebih detail dapat disampaikan oleh sekolah anak-anaknya melalui materi SETARA. “Mungkin ini ya, anatomi, itu yang saya minta dari program setara diperjelas, dan kita kan di rumah kan mendukung,” ujarnya.

Organ Reproduksi - Laki - Laki
Organ Reproduksi - Wanita

Sama halnya seperti Manda, Mariani juga merasa terbantu dengan adanya modul SETARA dalam mengajarkan anaknya seputar kesehatan reproduksi. Selama ini ia hanya memberikan informasi dari sebatas pengalamannya saja.

Atas pengalamannya tersebut, Anita pun menilai bahwa pemberian edukasi mengenai kespro merupakan salah satu intervensi dan langkah krusial yang penting. Pasalnya, salah satu akar besar atas ragam permasalahan remaja adalah ketidaktahuan.

“Anak saya selama ini cukup terbuka, namun setelah baca buku ini (modul SETARA) dia jadi lebih tau batasannya, dia jadi tau harus menjaga ini, menjaga itu, dia sudah ngerti sendiri”,
ungkap Mariani.

Mariani Quote - Rutgers Indonesia

 “Sebelumnya anak saya suka tanya, ‘gimana sih Ma cara bersihkan alat reproduksi saat menstruasi? bahasan tentang kespro ya anak saya jadi lebih tau dari SETARA, biasanya saya kasih tau dari pengalaman aja”, lanjut Mariani.

Semarang tengah menuju pengimplementasian PKRS di seluruh sekolah kota tersebut, meski dengan permasalahan krusial yang dirasakan semua daerah: anggaran. Terlebih saat pagebluk Covid-19 melanda, slot pembiayaan program teralihkan untuk pendanaan pandemi.

Mariani pun juga merasa ada perubahan yang sangat drastis dari anaknya setelah belajar SETARA, khususnya terkait kedisiplinan dan kemandirian.

Suryono - Rutgers Indonesia

 “Pada dasarnya memang seperti itu karena awal mula percakapan seperti itu kan dari anak ke ibunya, dan saya cuma kadang kalau anak cerita ke ibunya, saya cuma garis bawahi. Karena dia perempuan, lebih dominan bicara dengan ibunya,” ungkap Suyono.

 “Lebih punya pengetahuan tentang bagaimana kita sebagai remaja harus berjalan, mengontrol emosi kita, bagaimana menuju jenjang selanjutnya,” ungkap Hetty.

Perubahan akan pemahaman Hetty tersebut pun dilihat oleh Suyono. Dengan itu, Suyono menaruh banyak harapan pada program tersebut.

“Anak kami, baru berjalan dua tahun lah [belajar SETARA]. Mengenai hal tersebut, sangat positif sekali [dampaknya],” ujar Suyono.

Salah satu perubahan yang juga amat dirasakan oleh Suyono adalah kemampuan Hetty dalam menata dirinya sendiri. Hetty menjadi sosok yang semakin mandiri dengan keterlibatan Hetty menjadi peer educator (PE) untuk program SETARA. PE merupakan murid yang bertanggung jawab untuk mengajarkan sesama murid mengenai kesehatan reproduksi di sekolah.

Hubungan Anak dan Orangtua

“Kita bertiga di rumah, sama anak (Hetty), sama ibu. Yang dibahas di sekolah, kadang kita ngobrol-ngobrol. Perubahan anak itu jadi sangat positif sekali, semakin mandiri,” kisah Suyono.

Copyrights © Rutgers Indonesia

Diterbitkan: 

7 Juli 2022
Keranjang
  • Tidak ada produk di keranjang.