Get Involved
Svg Vector Icons : http://www.onlinewebfonts.com/icon
Get Involved

2021 - 2025

DKI Jakarta, Bandung, Palu

Share This
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Generation Gender (Gen-G) adalah program lima tahun yang mulai berlangsung di 10 negara yakni Etiopia, Indonesia, Yordania, Libanon, Maroko, Rwanda, Afrika Selatan, Sudan, Tunisia dan Uganda. Secara global, program ini berusaha menciptakan masyarakat yang adil gender dan bebas dari kekerasan dan ditujukan bagi kaum muda melalui penjangkauan, lobi dan advokasi serta penguatan kapasitas masyarakat sipil khususnya kepemimpinan perempuan muda dan pelibatan laki-laki muda dalam memajukan keadilan gender.

Tujuan program ini adalah untuk:

  • Meningkatkan jumlah laki-laki dan perempuan muda yang mempromosikan keadilan gender untuk mencegah kekerasan berbasis gender secara daring maupun luring,
  • Meningkatkan jumlah pengambil keputusan yang mengadopsi, mengadaptasi dan menerapkan kebijakan serta kebijakan yang transformatif-gender dan inklusif bagi orang muda secara akuntabel,
  • Meningkatkan kapasitas organisasi masyarakat sipil (OMS) menjadi lebih tangguh, efektif, dan inklusif bagi orang muda.

Visi program Gen G adalah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang yang inklusif, adil gender, dan bebas dari kekerasan dan yang mendukung orang muda perempuan dan laki-laki.

Orang muda berusia 16 – 30 tahun yang rentan dan beresiko tinggi terhadap kekerasan berbasis gender (KBG), penyintas KBG, dan orang muda yang beresiko menjadi pelaku KBG di masa mendatang.

Pendekatan

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Orang Muda

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi adalah hak setiap orang. Dalam pemenuhannya, seringkali kaum terutama perempuan, masih memiliki keterbatasan ruang dan kapasitas untuk mempengaruhi pembuat kebijakan dalam merumuskan kebijakan dan tindakan impelementasi yang beriorientasi pada hak-hak mereka. Kebijakan yang diharapkan adalah kebijakan yang menjamin perlindungan dan memberikan kesempatan yang sama dan mendukung masa depan warganya, terutama kaum muda. Seringkali orang muda masih dipandang sebelah mata oleh kelompok yang lebih senior dan berpengalaman atau ruang yang diberikan terbatas untuk dapat berpartisipasi secara bermakna. Perlu ada lingkungan yang aman dan mendukung bagi kaum muda untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan politik.

Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual

Berdasarkan Survey Nasional, 1 dari 3 perempuan berusia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan dari pasangan atau bukan pasangannya (SPHPN, BPS 2016). Selama dua belas tahun terakhir kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan mengalami peningkatan hingga 8 kali lipat, dari 54.425 kasus di tahun 2008 menjadi 431.471 kasus di tahun 2019. Pada tahun 2019, peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami peningkatan sebanyak 65% dari tahun sebelumnya yakni 2.341 kasus di 2019 dan 1.417 kasus pada tahun 2018. Berdasarkan angka statistik orang muda (BPS, 2019), jumlah perempuan muda yang mengalami kekerasan seksual enam kali lebih banyak dibandingkan laki-laki muda. Di masa pandemi COVID-19 beberapa laporan telah mencatat peningkatan kasus kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan yang dilakukan dalam dunia daring.

Kebijakan Publik

Walaupun angka kekerasan terhadap perempuan dewasa dan remaja perempuan semakin meningkat, Indonesia belum memiliki kerangka kebijakan yang mumpuni untuk mengatasi hal-hal yang menjadi penyebab dan yang timbul akibat kekerasan berbasis gender. Di tingkat nasional, UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) belum mampu menghentikan laju peningkatan angka kekerasan berbasis gender. Saat ini rancangan undang-undang untuk penghapusan kekerasan seksual (RUU P-KS) masih dalam pembahasan DPR RI. RUU ini diharapkan dapat mengurangi angka kekerasan seksual dan memberikan perlindungan serta pemulihan bagi korban. Kebijakan lain yang perlu diusahakan untuk memastikan kaum muda, terutama perempuan, dapat mencapai potensi penuhnya untuk berkembang dan berpartisipasi dalam pembangunan dapat berupa aturan-aturan turunan dari penaikan batas usia perkawinan (UU No. 16/ 2019) agar dapat berjalan secara efektif hingga di tingkat desa. Upaya mempengaruhi perubahan kebijakan ini akan menggunakan prinsip hak-hak atas kesehatan seksual dan reproduksi serta prinsip pencegahan dan perlindungan dari kekerasan berbasis gender dan seksual. Kelompok hak-hak ini diharapkan menjadi pedoman untuk memajukan kesetaraan gender yang transformatif dan berkelanjutan di Indonesia

Nama Mitra

Want to get the latest news from us?

Subscribe to Our Newsletter

Related Programmes

Explore and learn about other Rutgers Indonesia programmes.
Rutgers Indonesia
Rutgers Indonesia is a non-profit organization that has been working in Indonesia since 1997 on the issue of Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) and the prevention of Sexual and Gender-Based Violence (SGBV). We believe that human sexuality and reproductive health must be viewed positively, free from judgement and violence.
© 2022 Rutgers Indonesia | Terms of Use | Privacy Policy
Cart
  • No products in the cart.

Programme Information

Programme Duration

Programme Location

DKI Jakarta, Bandung, Palu

Working Partners

LBH APIK Jakarta

Koalisi Perempuan Indonesia

Programme Information

Programme Duration

Programme Location

DKI Jakarta, Bandung, Palu

Working Partners

LBH APIK Jakarta

Koalisi Perempuan Indonesia