Language:
id Bahasa Indonesia

Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual

Lukman Sardi. Brand Ambassador program MenCare tahun 2013 - 2015

foto: Lukman Sardi. Brand Ambassador program MenCare tahun 2013 – 2015

Kami berkomitmen untuk bekerja dengan menggunakan berbagai sudut pandang dalam menyelesaikan masalah kekerasan berbasis gender. Berbagai intervensi untuk menghapus kekerasan berbasis gender sudah banyak dilakukan oleh pemerintah, lembaga donor, hingga organisasi sosial kemasyarakatan. Namun intervensi program lebih banyak difokuskan kepada perempuan dan belum banyak menyasar kepada kelompok yang kerap melakukan kekerasan dan perlu untuk dilibatkan lebih jauh yakni laki-laki. Kami percaya bahwa laki-laki juga adalah agen perubahan untuk menghentikan kekerasan berbasis gender.

Rutgers WPF Indonesia telah dan sedang menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kemampuan para tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menanggulangi kekerasan. Banyak tantangan yang harus dihadapi karena pandangan masyarakat, nilai-nilai dan budaya di Indonesia masih belum sepenuhnya mendukung perubahan yang diupayakan Rutgers WPF Indonesia dan mitra-mitra karena kekerasan sudah menjadi keseharian dalam hidup dan perlu proses untuk menghapusnya.

Berangkat dari hal ini, kami berusaha mendorong penghapusan kekerasan dan mewujudkan kesetaraan gender di dua ranah, yakni pertama mendukung pembentukan dan implementasi kebijakan pemerintah yang terkait kesetaraan gender; aturan untuk melarang kekerasan dalam rumah tangga; aturan yang melindungi anak dari kegiatan yang merugikan atau menyakiti anak; aturan yang melarang pelecehan seksual, pemerkosaan dan tindak kejahatan seksual lainnya, serta upaya untuk memberikan konseling sebagai tambahan hukuman pada pelaku. Kedua di ranah masyarakat dengan menyebarkan kesadaran mengenai pentingnya penghapusan kekerasan melalui pendidikan publik, kampanye, pelibatan kelompok ayah, ibu hingga remaja perempuan maupun laki-laki. Berikut adalah beberapa inovasi yang kami lakukan:

Melibatkan laki-laki untuk lebih peduli melalui program Prevention+

Prevention+ merupakan kelanjutan dari program MenCare+ yang berfokus pada pencegahan kekerasan berbasis gender dengan memadukan pendekatan pelibatan laki-laki. Program ini bertujuan mewujudkan kesetaraan gender sebagai suatu kondisi yang ideal bagi pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksi dan membongkar norma-norma gender yang ada. Dalam kondisi ini, tidak ada lagi dorongan untuk melakukan tindakan kekerasan khususnya kepada perempuan. Program yang berjalan tahun 2016-2020 ini, dalam implementasinya menggandeng mitra lokal, yaitu: Yabima, Sahabat Kapas, Rifka Annisa, Damar, dan Rahima.

Mendukung Women Crisis Center

Beberapa program kami bersifat mencegah atau mengurangi potensi bahaya terabaikannya prinsip kesetaraan gender dan bahaya yang mengancam hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi; sementara program yang lain berupaya mempercepat sosialisasi pentingnya hak-hak perempuan, ibu dan kaum muda, yang nota bene hak-hak tersebut sudah dilindungi undang-undang. Masih ada kelompok masyarakat yang mencari pembenaran dari kekerasan terhadap perempuan dengan berlindung di balik penafsiran keagamaan yang sempit; namun suatu terobosan untuk mencegah praktik kekerasan dalam rumah tangga dilakukan oleh Women Crisis Center (Cahaya Perempuan) di provinsi Bengkulu. Bekerjasama dengan kantor kementerian agama setempat, WCC Cahaya Perempuan mengadakan program pembinaan para calon pengantin tentang isu kesetaraan gender dan membangun rumah tangga yang harmonis berdasarkan Al-Quran dan Hadist.

Konseling bagi korban dan pelaku kekerasan

Ada tiga mitra yang memberikan layanan konseling untuk program Prevention+ ini, yaitu Damar, Rifka Annisa dan Sahabat Kapas. Untuk Damar dan Rifka Annisa, konseling yang diberikan pada awalnya berfokus pada korban saja, yang mayoritas adalah perempuan. Layanan untuk laki-laki dan pelaku meskipun sejak awal sudah dibuka dan diperkenalkan tetapi bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan. Banyak laki-laki yang merasa segan untuk mengakses layanan, bahkan ketika sudah mendapat rujukan dari pihak lain sekalipun. Hal ini menunjukkan perlunya kampanye yang lebih masif bahwa konseling bukan layanan eksklusif untuk perempuan dan hal yang wajar jika dilakukan oleh laki-laki. 

Konseling yang sedikit berbeda dilakukan oleh Sahabat Kapas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo dan Yogyakarta. Anak-anak yang menjalani hukuman dengan kasus berkaitan dengan KBG mendapatkan layanan konseling kelompok untuk mencegah terjadinya pengulangan pelanggaran, serta untuk memberikan pemahaman pada anak tentang bagaimana mengelola emosi, membangkitkan rasa percaya diri, peran gender, dan sebagainya.

Diskusi komunitas

Prevention+ percaya bahwa mengubah sebuah budaya yang sudah tertancap sejak seseorang dilahirkan adalah melalui diskusi. Begitu pula dengan patriarki dan budaya maskulinitas yang sudah sejak lahir kita pelajari dan tanpa sadar menjadi nilai yang juga dipegang oleh sebagian besar masyarakat. 

Diskusi komunitas diadakan di tingkat desa, dibagi menjadi beberapa kelas dengan kelompok peserta yang berbeda-beda di setiap kelasnya. Kelompok tersebut adalah kelas ayah, kelas ibu, kelas remaja perempuan dan kelas remaja laki-laki. Diskusi komunitas ini dilakukan oleh Rifka Annisa di Kulon Progo dan Gunungkidul, Yogyakarta, dan Tanggamus, Lampung Timur serta Metro, Lampung. 

Diskusi komunitas untuk kelas ibu dan kelas ayah ini mengajak pasangan suami dan istri untuk merefleksikan kembali hubungan mereka, kemudian bersama-sama.

Skip to content