Ikut Terlibat
Svg Vector Icons : http://www.onlinewebfonts.com/icon
Ikut Terlibat

Nodi, Sang Ayam yang Berjasa Memberikan Telur dan Dagingnya

Bagikan Artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Perundungan adalah hal yang sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar di dunia remaja. Dari mulai memanggil dengan nama orang tua, dengan maksud mengolok-olok, melakukan starter (meletakkan telapak kaki di penis orang lain dan digerak-gerakkan dengan keras ketika orang tersebut tidak berdaya karena dipegangi oleh yang lain), dan sebagainya. Nodiyanto atau biasa dipanggil Nodi adalah remaja yang pernah ada di dalam kelompok yang menganggap hal-hal tersebut wajar. Nodi kerap kali merundung teman-temannya yang lain.

Usia Nodi 15 tahun ketika pertama kali mengikuti serial diskusi untuk remaja di Dusun Tekik, Desa Ngloro, Kabupaten Gunungkidul. Awalnya Nodi mau ikut karena teman-temannya yang lain juga ikut, tetapi lama-kelamaan dia mengaku senang dan merasa asyik karena banyak temannya.

“Saya paling ingat materi tentang bullying, tentang menghargai orang lain, tentang menjadi remaja yang baik, tentang pelabelan,” terang Nodi. Di antara semuanya, materi yang paling mengena bagi Nodi adalah materi tentang Stop Bullying. “Karena dulu saya suka mem-bully orang, seperti men-starter teman, dan saya juga suka mengata-ngatai teman atau memanggilnya dengan nama orang tuanya. Tapi sejak mengikuti sesi materi itu jadi sudah banyak berkurang,” akunya.

IMG 0677 - Rutgers Indonesia

Materi yang Nodi maksud adalah yang berhubungan dengan relasi kuasa. Dulu buat Nodi perundungan dan bercanda biasa itu tidak ada bedanya. Tetapi setelah belajar tentang relasi kuasa, dia jadi merasa sedih. Dia tidak mau menjadi bagian dari orang yang lebih berkuasa dan menyakiti yang lebih lemah. Sekarang dia bisa melihat bahwa teman yang dirundungnya memang seringkali orang yang memiliki posisi lebih lemah, baik secara fisik, usia, maupun faktor lain.

Tidak hanya merasakan manfaatnya, siswa kelas VIII ini juga bisa merasakan ada perubahan dalam dirinya. “Dulu saya sering pulang malam bahkan kadang tidak pulang, tapi sekarang saya pulangnya cepat dan lebih banyak di rumah,” terang Nodi. “Terus saya juga jadi lebih bisa diatur oleh orang tua. Dulu saya sering dimarahi oleh karena setelah Magrib sering pergi sampai malam, terus juga sering ketahuan nakal. Nah kalau sekarang lebih sering di rumah, pulang cepat, dan nakalnya berkurang,” lanjutnya.

IMG 0640 - Rutgers Indonesia

Nodi juga menceritakan sendiri kalau dulu dia sering memaki dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas ketika merundung teman, suka minum minuman beralkohol, dan kenakalan-kenakalan lain. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. “Saya merasa getun (kecewa), mumpung belum terlanjur, karena katanya itu kan berbahaya.” Demikian Nodi menjelaskan alasannya berhenti melakukan kenakalan.

Nodi adalah anak keempat dari bapak tapi anak pertama dari ibunya. “Sebelum dengan ibu saya, bapak menikah dan punya tiga anak perempuan, kemudian istrinya meninggal, lalu bapak menikah dengan ibu saya dan saya lahir,” cerita Nodi tentang keluarganya. “Tapi bapak dan ibu saya sudah berpisah sejak saya kelas 6 SD. Bapak pergi ke Jakarta dan tinggal bersama anak-anak perempuannya dan tidak kembali lagi. Mereka belum resmi bercerai. Bapak tidak kembali lagi, bahkan ketika kakek saya meninggal.” Lanjut Nodi panjang lebar.

Saat ini Nodi tinggal bersama ibu, bulik (tante), dan neneknya. Nenek dan tantenya sedang sakit, jadi ibunya sendiri yang bekerja untuk menghidupi semuanya. “Ibu saya petani. Saya kasihan pada ibu,” cerita Nodi, lugas dan penuh kejujuran. “Saya ingin kelak bisa sukses dan membanggakan orang tua,” kata Nodi menerawang. “Persisnya saya mau jadi tentara, agar bisa berguna bagi nusa dan bangsa.” Selain jadi tentara, Nodi juga sudah membayangkan akan menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab dan bisa menjaga istri dan anaknya kelak.

Di dalam kegiatan Youth Camp yang membahas tentang pencegahan kekerasan, Nodi menyampaikan kalau saat ini yang masih mengganjal di dirinya adalah tentang orang tuanya yang menurutnya tidak siap membesarkan anak. Pada pelatihan itu pula ketika sesi Konsep Diri dan fasilitator meminta peserta untuk menggambarkan binatang yang karakter yang mewakili dirinya, Nodi menggambar ayam betina. “Ayam betina itu suka mengganggu di pekarangan rumah orang dan suka buang kotoran sembarangan juga suka mematuk, tapi dia memberikan daging dan telurnya untuk dimakan manusia,” jelasnya di depan kelas sambil agak terbata-bata.

IMG 0675 - Rutgers Indonesia

Sementara ketika diminta menggambarkan dirinya, Nodi menggambarkan dirinya yang dulu; kemaki (belagu), suka mem-bully, men-starter teman, dan sering berbicara kotor. Kemudian fasilitator memintanya untuk mengidentifikasi sifat-sifatnya yang positif. “Saya ini orangnya loyal pada teman, suka mentraktir teman, dan suka membantu orang, terutama dalam hal membetulkan sepeda motor yang rusak,” demikian Nodi akhirnya bisa mengidentifikasi hal-hal yang positif dari dirinya.

Satu pesan yang Nodi sampaikan pada fasilitator diskusinya adalah, “Remaja di desa saya itu banyak yang nakal, jadi caranya jangan dengan dikasari, nanti malah jadi tambah nakal.”

RSY Nody IMG 0498 - Rutgers Indonesia

Nasehat Nodi itu berdasarkan pengalamannya sendiri. Ketika orang tuanya dulu mencoba mendidiknya dengan cara yang kasar, tidak berhasil. Jadinya dia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah sampai malam. Dengan diskusi-diskusi ini Nodi merasa pikirannya dibuka tanpa dipaksa. Semoga Nodi akan tetap menjadi ayam yang berjasa memberikan telur dan dagingnya pada mereka yang membutuhkan ya.


Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Rutgers Indonesia

Rutgers WPF Indonesia

Rutgers Indonesia merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.

© 2022 Rutgers Indonesia | Syarat & Ketentuan | Kebijakan Privasi

Keranjang
  • Tidak ada produk di keranjang.