Ikut Terlibat
Svg Vector Icons : http://www.onlinewebfonts.com/icon
Ikut Terlibat

Konsultan Pengembangan Modul CSE bagi Remaja Penyandang Tunagrahita

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Terms of Reference

Pengembangan Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) yang Komprehensif bagi Remaja Penyandang Tunagrahita

 

1.        Latar Belakang

Rutgers WPF Indonesia adalah organisasi non pemerintah yang bekerja untuk isu hak dan kesehatan seksual danreproduksi serta pencegahan kekerasan berbasis gender di Indonesia.. Kami  bekerja sama dengan lebih dari 20 mitra untuk mengimplementasikan model pendidikan seksualitas komprehensif, layanan ramah remaja dan keterlibatan laki-laki untuk mencegah kekerasan berbasis gender. Kami menggunakan pendekatan berbasis bukti dan pendekatan transformatif gender dalam semua program. Menindaklanjuti pasca disahkannya Undang-undang no.19 tahun 2011 tentang kesamaan hak dan kebebasan yang mendasar bagi semua penyandang difabel, sebagai ratifikasi dari hasil konvensi Hak-hak penyandang disabilitas (Convention On The Rights Of Persons With Disabilities) pada tahun 2006. Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) melakukan penelitian pada 102 responden wanita disabilitas, didominasi oleh responden dengan usia remaja (3-18 tahun sebanyak 35 % dan 19-24 tahun  sebanyak 26%) dengan latar belakang yang berbeda berdasarkan jenis disabillity, umur dan pendidikan, menemukan wanita disabilitas di Indonesia memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas. Selain itu, ditemukan juga kerentanan terhadap kekerasan, termasuk seksual, terhadap wanita disabilitas yang dapat terjadi di lingkungan publik hingga pribadi, seperti kekerasan oleh pasangan (pacar/suami).  Kajian resiko kasus kekerasan penyandang disabilitas, oleh tim peneliti John Moores Universitas Liverpool dan WHO untuk 17 studi di negara berpendapatan rendah menunjukkan bahwa anak-anak Penyandang disabilitas memiliki kecenderungan 3,7 kali lebih besar untuk kekerasan; 3,6 kali lebih mungkin Mengalami kekerasan fisik; Dan 2,9 kali lebih mungkin mengalami kekerasan seksual. Anak-anak dengan disabilitas mental dan intelektual 4,6 kali lebih mungkin menjadi korban Kekerasan seksual dibandingkan teman sebayanya yang tanpa disabilitas (UNFPA, 2009). Demikian pula, tinjauan sistematis dan meta analisis lainnya (Jones, 2012) menunjukkan bahwa orang-orang dengan Kecacatan 130 persen lebih cenderung menjadi korban kekerasan, terutama di dalam negeri Kekerasan dan kekerasan seksual, dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki disabilitas. Atas dasar itu, RutgerWPF Indonesia bersama dengan Direktorat Pembinaan PKLK (Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus) Kemendikbud bekerjasama untuk menyusun modul/panduan belajar pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang komprehensif (PKRS), yaitu modul MAJU! (untuk disabilitas pendengaran) dan modul LANGKAH PASTIKU! (untuk disabilitas penglihatan). Sampai saat ini, program tersebut telah diimplementasikan di sebanyak 72 SMP Luar Biasa dan Sekolah Menengah Luar Biasa yang melayani siswa disabilitas pendengaran dan penglihatan di delapan provinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Bali dan  NTB. Berdasarkan permintaan dari Direktorat PKLK, dimana ada kebutuhan untuk pengembangan inisiatif pendidikan kesehatan reproduksi  bagi remaja dengan difabel mental, maka atas dukungan program GUSO (Get Up Speak Out), Rutgers WPF Indonesia mendukung Direktorat PKLK untuk mewujudkan kebutuhan tersebut. Sebagai langkah awal, tahun ini akan dilaksanakan inisiatif  pengembangan modul belajar  pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tunagrahita serta ujicoba penggunaannya pada sekolah terpilih. Untuk itu, Rutgers WPF Indonesia membuka lowongan untuk 2 (dua) orang Konsultan yang akan menyusun  pengembangan modul belajar  pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tunagrahita tersebut.

2.        Tujuan

Tujuan Umum:

Menyusun panduan / modul pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja tunagrahita

Tujuan khusus:

  1. Melakukan asesmen kebutuhan dan analisis sosial
  2. Bekerjasama dengan dewan penasehat dan kelompok kerja untuk menyusun modul pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tunagrahita

3.        Keluaran

  1. Laporan hasil asesmen kebutuhan dan analisis sosial di 3 lokasi sebagai dasar rujukan untuk pengembangan modul.
  2. Draft 1 modul PKRS remaja tunagrahita berdasarkan input dari dewan penasehat dan kelompok kerja
  3. Draft final modul PKRS remaja tunagrahita berdasarkan input dari dewan penasehat dan SRHR & SGBV Specialist Rutgers WPF Indonesia

4.         Tugas Konsultan

Konsultan penulis praktik terbaik akan bekerja selama dua bulan,  20 Oktober 2017 – 20 Desember 2017;

Tugas Deliverable
1. Membuat rencana kerja detil terkait dengan penulisan modul PKRS bagi remaja tunagrahita ·     Outline modul PKRS bagi remaja tunagrahita·     Rencana kerja detil penulisan modul PKRS bagi remaja tunagrahita
2. Bersama dengan Rutgers memfasilitasi workshop penulisan untuk mendapatkan masukan dari semua pihak yang relevan (guru SLB C, remaja dengan disabilitas, orangtua remaja tunagrahita, pakar kespro dan tunagrahita, akademisi, mitra lokal Rutgers dan tim Rutgers) ·     Outline workshop penulisan·     Rencana harian workshop penulisan
3. Menyusun draft modul PKRS bagi remaja tunagrahita dan finalisasi draft berdasarkan input dari SRHR & SGBV Specialist, juga pakar dari PKLK ·     Drafts modul PKRS bagi remaja tunagrahita·     Modul final PKRS bagi remaja tunagrahita
4. Membuat laporan final yang menggambarkan keseluruhan proses penyusunan modul PKRS tunagrahita sejak audiensi hasil hingga finalisasi tulisan Laporan proses penyusunan modul PKRS tunagrahita

 

5.         Kualifikasi Konsultan

  1. Konsultan penulis praktik terbaik
  2. Memiliki rekam jejak dalam penulisan modul pendidikan untuk tunagrahita (minimal telah menuliskan 2 modul).
  3. Memiliki pemahaman dan perspektif berbasis hak asasi terkait isu hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) serta kekerasan berbasis gender.
  4. Memiliki pengalaman dalam mengkaitkan isu gender dengan gender transformative approach (GTA).
  5. Berpengalaman memfasilitasi pelatihan isu HKSR, diutamakan memfasilitasi untuk remaja dan/atau guru.
  6. Pendidikan tingkat master ilmu keguruan/kesehatan masyarakat/bidang sosial lain yang relevan terkait isu pendidikan luar biasa, HKSR, dan gender dengan pengalaman lapangan minimal 3 tahun.
  7. Memiliki kemampuan interpersonal yang baik dan
  8. Mampu bekerja dalam tim dengan sangat baik.

Maaf, Lowongan ini Sudah Ditutup

Dapatkan Info Terbaru Seputar Kesempatan Bekerja di Rutgers Indonesia !

Berlangganan Nawala Rutgers Indonesia

Rutgers WPF Indonesia

Rutgers Indonesia merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.

© 2022 Rutgers Indonesia | Syarat & Ketentuan | Kebijakan Privasi

Keranjang
  • Tidak ada produk di keranjang.